Kamis, 02 Februari 2012

"Hallo Bandoeng, Hier Den Haag..."

Stasiun Radio Malabar

Pada tahun 1925, Prof. Dr. Ir. Komans di Netherland (Belanda) berhasil melakukan komunikasi dengan Dr. Ir. de Groot pada Radio Malabar, panggilannya berbunyi "Hallo Bandoeng, Hier Den Haag..."    - Kejadian ini merupakan titik awal masuknya komunikasi radio di Indonesia. Menariknya komunikasi jarak jauh ini dilakukan atas nama pribadi, dan bukan mewakili perusahaan apalagi pemerintah. Karena itulah dalam beberapa referensi disebutkan bahwa kedua orang tsb. adalah amatir radio. 
Dinas pos, telepon dan telegraf Pemerintah Hindia Belanda
Stasiun radio Malabar pada awalnya merupakan stasiun radio amatir, hingga kemudian menjadi bagian dari dinas pos, telepon dan telegraf pemerintah Hindia Belanda, yang membuka jalur komunikasi antara 2 negeri berjarak 12.000 kilometer ini.

Di  kawasan ini dahulunya  juga terdapat Kampung radio (radio dorf) yang dihuni oleh awak stasiun radio dengan fasilitas yang cukup lengkap.  Panggilan ”hallo Bandoeng” menjadi sangat populer saat itu, sehingga konon menginspirasi komposer Ismail Marzuki menciptakannya dalam bentuk lagu ”Halo-halo Bandung”, yang mengisahkan perasaan orang-orang saat saat teringat akan Bandung.
 
Malabar adalah nama stasiun pemancar radio yang dibangun di kawasan Gunung Puntang pada tahum 1923 oleh orang belanda yang bernama dr. de Groot. Gunung Puntang sendiri terletak di daerah Pangalengan, Kabupaten Bandung ( Bandung Selatan ). Dengan ketinggian 1300m di atas permukaan air laut. Pemancar Radio Malabar sangat fenomenal pada zaman itu dikarenakan antenna yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2 kilometer. Di tambah lagi dengan ketinggian menara pemancar yang mencapai 350 meter. Kira-kira kalau di ilustrasikan sebanding dengan tinggi gedung berlantai 100. Dikabarkan menara pemancar radio Malabar merupakan pemancar radio tertinggi di dunia ( hingga saat ini ). Walaupun sekarang menara itu sudah tak ada lagi.
Di bagian dasar lembah, terdapat bangunan yang berfungsi sebagai stasiun pemancar yang berguna untuk mendukung komunikasi ke negeri Belanda yang berjarak 12000 kilometer.  Uniknya, mereka bisa mendapatkan lokasi yang sangat ideal, karena arah propagasi struktur antena tersebut memang menuju negara Kincir Angin terebut. Terlebih tempat ini cukup tersembunyi. Gedung pemancar radio ini bentuknya sangat cantik di masa itu. Sayangnya kini bangunan itu hanya tersisa reruntuhan tembok-tembok yang sudah berlumut.
Di dekat gedung radio ini terdapat sebuah kolam yang cukup besar. Kolam yang saat ini di kenal dengan nama ‘ Kolam Cinta ‘. Konon ada kepercayaan, jika sejoli berpacaran dilokasi ini akan membawa dampak bagi kelangsungan hubungan mereka. Di daerah ini juga terdapat komplek perumahan yang dikenal dengan Kampung Radio. Selain itu juga terdapat sarana olahraga yang di bangun di daerah ini pada saat itu.  Bahkan di kabarkan terdapat bioskop dan sarana hiburan lainnya. Tetapi sayangnya semua bangunan itu sekarang hanya tinggal reruntuhan dan tampak tidak terurus oleh pengelola disana. Selain itu disini juga terdapat sebuah gua peninggalan Belanda yang bisa di telusuri dengan mudah meskipun gu ini sempit dan bagian dasar gua yang cenderung becek. Dan ada beberapa air terjun menghiasi kawasan ini membuat suasana begitu sejuk bahkan kelewat dingin.

Potret Stasiun Radio Mabalabar dahulu

Radio Malabar

Untuk informasi lengkap tentang Radio Malabar , yang dilakukan penelitian oleh Tomita Prakoso, silahkan kunjungi web :

1.
http://radiomalabar.wordpress.com/
2. http://tomita.web.id/sesuatu-dari-puing-radio-malabar-bagian-4-akhir/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar