Kamis, 21 Januari 2016

Monitor SO-50 (SaudiSAT)

SAUDISAT-1c (S0-50)
Satelit SO - 50 membawa beberapa eksperimen , termasuk mode J FM, eksperimen repeater amatir yang beroperasi pada frekuensi 145,850 MHz uplink dan downlink 436,800 MHz . Repeater ini disediakan untuk amatir di seluruh dunia, dan sebagai pembatas pemakaiannya , maka satelit ini menggunakan tone 67,0 Hertz pada uplink . SO - 50 juga memiliki timer 10 menit yang harus diaktifkan sebelum digunakan . Cukup transmit selama 2 detik dengan tone 74,4 untuk mengaktifkan timernya .

Repeater terdiri dari miniature penerima VHF dengan sensitivitas -124dBm , memiliki bandwidth IF sekitar 15 KHz . Antena penerima adalah 1/4 gelombang,  dipasang secara vertikal di sudut atas satelit tersebut . Audio yang diterima akan difilter dan dikondisikan kemudian masuk dalam kontrol elektronik utama  sebelum  dipemancarkan melalui transmiter UHF, 250mW . Antena downlink adalah 1/4 gelombang yang dipasang di sudut bawah satelit dengan kemiringan  45 derajat.

uplink :
    145,850 MHz ( 67,0 Hz PL Tone )
downlink :
    436,800 MHz
Fitur:
    FM Repeater
    Percobaan lain : Unknown
/

Pengenalan Komunikasi Menggunakan Satelit - JOTA JOTI 2015, Cibubur

Dalam giat JOTA-JOTI Internasional tahun 2015 di Cibubur, om Andy Sitaniapessy, YC0MVP, seorang penggiat Amateur Satellite dari AMSAT-ID berpartisipasi memberikan presentasi pengenalan komunikasi satelit.
Komunikasi satelit Amateur Radio merupakan kegiatan yang terhitung masih baru dan belum banyak digeluti oleh anggota ORARI sampai saat ini. Presentasi AMSAT-ID dalam giat JOTA-JOTI 2015 yang berlangsung dari tanggal 16 hingga 18 Oktober di bumi perkemahan Cibubur tersebut bertujuan mensosialisasikan AMSAT kepada adik-adik PRAMUKA tentang kemajuan teknologi komunikasi yang ada pada ORARI.

Minggu, 15 November 2015

Merakit M2 Antenna


Diawal bulan November 2015 saya berkesempatan merakit antena builtup milik OM Hakim-YB0AN , antena yang konon harganya cukup mahal dan ini masih di import dari negara sebelah.

Untuk antena M2 pertama yang saya rakit adalah VHF , setelah selesai dirakit dialukan tune untuk mencari resonansi agar didapat SWR terendah dengan menggeser plat alumunium di gamma-match.




Sedangkan untuk antena M2 yang kedua saya merakit UHF ,setelah dirakit ditune didapat SWR yg cukup rendah 1,7:1



Sabtu, 04 Juli 2015

Amateur Satelite - AMSAT

Bertempat di eks Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) Pancoran Jakarta Selatan, Jakarta Amatir Radio Fair (JARF) digelar dari tanggal 13-14 July 2015.




Saya dan beberapa rekans yang tergabung dalam Komunitas Amatir Radio Kramatjati (KARK-Eks Lokal Kramatjati) mendirikan stand AMSAT di acara JARF 2015. Dengan difasilitasi oleh eks.Presiden AMSAT-ID , OM Hakim Satar - YB0AN, beliau mensupport smua peralatan untuk demo Komunikasi Radio via Satelite. Peralatan yang disediakn oleh OM Hakim antara lain :
- Antena Crossband (VHF-UHF) lengkap dengan trimpot memudahkan rotary antena
- Radio Yaesu FT 847 (HF-VHF-UHF) untuk komunikasi Satelite

- Radio Icom 7200 untuk komunikasi digital



Pada hari pertama tidak sempat memonitor satelite amatir yang melintas dikarena sudah diluar jam lintasan, dengan bantuan software Orbitron yang sedehana, dijadwalkan besok pagi akan dipantau lagi lintasan satelite yang melintas wilayah indonesia, ada satu satelite yang melintas AO-7 milik Saudi, waktunya jam 7.30-7.45 wib pagi hari.




Pada hari ke dua JARF 2015, kami datang lebih pagi ...jam 7 pagi sudah standby di lokasi , segera kami melakukan smua persiapan, antena diarahkan ke utara, radio diset...ready..CQ..satelite..CQ satelite






Sabtu, 09 Agustus 2014

Tentang Ground

GROUNDING
Karena didunia radio , grounding itu ( menurut tujuan / fungsi nya ) bisa dibagi menjadi 2 kelompok , meskipun kedua duanya sama2 berkaitan dengan ground / arde / pentanahan :


01 .RF GROUNDING
Grounding yang ditujukan untuk “memperlancar” / memperbaiki rambatan ( penerimaan / pancaran / distribusi ) signal RF / gelombang radio , kita kelompokkan kedalam bahasan RF grounding. Untuk RF grounding disini tidak hanya hal2 yang menyangkut grounding yg sebenarnya ( yang terhubung secara langsung melalui penghantar , kedalam tanah ) namun grounding tiruan / artificial grounding / counterpoise dsm yang tidak terhubung secara langsung ketanah juga termasuk didalamnya. Meski penghantar2 berbentuk radial ( maupun jala2 / kisi2 / grid ) disini tidak dihubungkan ke arde , tetapi bagi gelombang RF itu sudah cukup bisa “menjembatani” kelancaran dan memperbaiki rambatan RF “terhadap” / yang melalui tanah.

02 .DC GROUNDING
Kelompok kedua adalah DC grounding. DC grounding selalu terhubung langsung dengan arde atau pentanahan. DC GROUNDING TIDAK DITUJUKAN UNTUK MEMPERBAIKI RAMBATAN ARUS BOLAK BALIK / AC ( DALAM HAL INI RF ) MELAINKAN UMUMNYA DITUJUKAN UNTUK MENINGKATKAN / MENGUTAMAKAN MASALAH KEAMANAN DAN KESELAMATAN ( SAFETY ). SEBUAH SISTEM DC GROUND / DC GROUNDING HARUSLAH MUDAH DILALUI ( = MENYALURKAN ) ARUS SEARAH / DC ( TERUTAMA PETIR. ARUS PETIR ADALAH ARUS SEARAH / DC ).

DC ground tidak hanya meminimalisir dampak buruk petir yang menyambar langsung , tetapi juga memiliki manfaat lain yaitu meredam impuls / induksi petir yang menyambar sasaran lain disekitar antenna kita atau diluar station kita. DC ground juga mampu menurunkan / mengurangi noise secara sangat significant maupun pengaruh listrik statis ( misalnya yang timbul karena “gesekan” angin kencang ke antenna dsb ).
Apa contoh untuk membedakan ( kinerja ) sebuah DC ground dengan ( pengaruhnya ) terhadap RF ?

Saya berikan 2 bh contoh :
a. Sebuah antenna vertical. Dibagian bawah radiatornya terpasang sebuah coil dari bagian bawah antenna ( yg juga terhubung ke inner conductor kabel coaxnya ) ke outer conductor coax ( yang juga terhubung ke arde atau tiang antenna yang diketanahkan ).
Bagi RF yg. ada di inner conductor / antenna , coil itu merupakan hambatan yg besar ( berimpedansi tinggi dan sulit dilalui RF ) meski ujung lain dari coil tsb. terhubung langsung ketanah.
Tetapi bagi arus DC ( petir ) , tahanan dari coil tsb. “tidak ada artinya” sama sekali. Jadi bagi arus DC yg muncul ( misalnya antenna tersambar petir ) ia akan memilih melewati coil tsb. karena langsung terhubung ketanah , maka tidak ada arus petir yang besar ( atau impulsnya ) yang akan melewati coax menuju ruang station dan merusak peralatan electronic yg ada atau menimbulkan kecelakaan fatal.
Arus ( atau impuls ) petir itu akan langsung “terbuang” ketanah.

b. Contoh kedua , perhatikan foto antenna J-Pole yg. kemarin saya postingkan. Perhatikan bagaimana dibagian bawah antenna inner coax juga “terhubung singkat” ke outernya melalui bagian ( sebagian ) element antenna dengan panjang tertentu. Bagi arus DC , koneksi itu merupakan koneksi hubung singkat ( resistansi sangat rendah ) , tetapi bagi RF , apa yg kita lihat sebagai “tersambung langsung” itu sebetulnya memiliki impedansi sangat tinggi ( diantara inner dan outer ).

Disini hanya arus DC ( petir ) yg sukai melalui “jalan pintas” itu , sedangkan bagi frekuensi kerja dari radionya sendiri , ia tidak akan ter “shorted” sehingga gagal mencapai antenna , melainkan akan tetap menuju antenna dan terpancar sebagaimana mestinya.

Demikianlah sebetulnya grounding pada system antenna itu bisa kita bagi menjadi 2 kelompok , dan karena saya tidak tahu tentang “grounding yang mana yang anda tanyakan” , maka dibawah ini saya berikan saja referensi2 mengenai keduanya yang bisa anda temukan dalam beberapa link yang ada.
Maaf silahkan “dipilihi” sendiri yang mana yang anda perlukan. Ada bahasan tentang standard grounding antenna yg berlaku di Amerika , ada bahasan tentang RF grounding , ada bahasan tentang DC grounding , tentang grounding antenna TV , tentang ( tetap diperlukannya ) grounding bagi antenna yang tersembunyi dipasang dalam plafon ( Jawa “wuwungan” ) / attic , bahasan ttg. grounding antenna yg. nempel di atap dsb

Semoga ada manfaatnya.

Salam , Djoko Haryono.
artikel ini hasil diskusi di FB:
https://www.facebook.com/groups/orari.indonesia/permalink/10152616612962930/

Jumat, 11 Juli 2014

Ngoprek Radio Perang

Sambil ngabuburit mengisi waktu, saya mendapatkan rongsokan 2 unit Radio perang jenis manpack Racal PRM-4021 dari teman Amatir Radio , yang kondisinya MATI total, body box radio sudah lecet sana sini saya repaint lagi dengan cat green army, knop chanel untuk dial frekuensi satu knop hilang ...yang lainnya masih cukup baik kondisinya.

Cover box alumunium penutup blok Synteziser dan blok Transceiver saya buka terlihat smua parts masih terlihat utuh, Blok Power Amp saja terlihat TR Final sudah pernah diganti tidak original dari Racal (aslinya pakai AR711548) pushpull yang ada dipkai yaitu 2SC2395 Thosiba, power tetap sama hanya 20watt saja pada posisi High dan low 5watt saja.

Segera saya lakukan cek smua jalur PCB, cek tegangan... ternyata ada tegangan tidak normal pada IC regulator ML18, tegangan droop smp 7,6V saja, harusnya normal operasi adalah 8volt. Saya segera cabut IC regulator ini, karena tidak ada lg komponen jenis ini dipasaran saya ganti dengan IC regulator biasa saja IC 7808, setalah dipasang , hasilnya lumayan bagus tegangan tidak drop lagi bisa out 8V, cek di beberapa titik point , smua tegangan sudah Normal.... tapi tetap Synteziser belum mau bangkit bekerja PLL tetap mati ??? Why ...to be continued




Kamis, 26 Juni 2014

Antena MiniDipole monoband 40m/7MHz

Minggu akhir Juni menjelang memasuki bulan Ramadhan 1435H, saya bersama om Jeff-YC0LOU melakukan eksperimen antena dipole yang dibuat mini/short dengan center loading yaitu Mini Dipole di band 40m/ 7MHz.

Skema design antena ini banyak di internet dengan keyword budipole,shortdipole di mesin pencari google.com, maka akan dijumpai banyak sekali design dari tipe antena ini.

Hasil eksperiemen antena MiniDipole ini cukup memuaskan dengan SWR rendah rentang frekuesi dari 6.950MHz sampai 7.050MHz, cukup lebar ya. Antena posisi 6m dari grounded ( tanah) dengan hasil QSO dengan rekan2 dari jawa tengah, jawa timur, Lampung, jawa barat.